Sabtu, 30 Mei 2015

Manajemen Konflik di Sekolah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Setiap kelompok dalam satu organisasi dimana di dalamnya terjadi interaksi antara satu dengan lainnya, memiliki kecenderungan timbulnya konflik.Konflik sangat erat kaitannya dengan perasaan manusia, termasuk perasaan diabaikan, disepelekan, tidak dihargai, ditinggalkan, dan juga perasaan jengkel karena kelebihan beban kerja.Perasaan-perasaan tersebut sewaktu-waktu dapat memicu timbulnya kemarahan yang berujung pada konflik. Dalam suatu organisasi (institusi pemerintah maupun suasta), kecenderungan terjadinya konflik, dapat disebabkan oleh suatu perubahan secara tiba-tiba, antara lain:Kemajuan teknologi baru, persaingan ketat, perbedaan kebudayaan, perubahan sistem nilai, serta berbagai macam kepribadian individu. Seorang Kepala Sekolah yang ingin memajukan institusinya, harus memahami faktor-faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya konflik, baik konflik di dalam individu maupun konflik antar perorangan dan konflik di dalam kelompok dan konflik antar kelompok.Pemahaman faktor-faktor tersebut akan lebih memudahkan tugasnya dalam hal menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi dan menyalurkannya ke arah perkembangan yang positif Terjadinya konflik dalam setiap organisasi merupakan sesuatu hal yang tidak dapat dihindarkan.Hal ini terjadi karena di satu sisi orang-orang yang terlibat dalam organisasi mempunyai karakter, tujuan, visi, maupun gaya yang berbeda-beda.Di sisi lain adanya saling ketergantungan antara satu dengan yang lain yang menjadi karakter setiap organisasi. Tidak semua konflik merugikan organisasi.Konflik yang ditata dan dikendalikan dengan baik dapat menguntungkan organisasi sebagai suatu kesatuan. Dalam menata konflik dalam organisasi diperlukan keterbukaan, kesabaran dan kesadaran semua pihak yang terlibat maupun yang berkepentingan dengan konflik yang terjadi dalam organisasi. Untuk sebuah institusi pendidikan dalam hal ini Sekolah karena sifatnya yang kompleks dan unik sehingga sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi.Dalam hal ini kepala sekolah sebagai pemimpin sangat dituntut untuk dapat memanage konflik vertical maupun horisontal, keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah. Kepala sekolah dilukiskan sebagai orang yang memiliki harapan tinggi bagi para staf dan para siswa, kepala sekolah adalah mereka yang banyak mengetahui tugas-tugas mereka dan menentukan irama bagi sekolah tersebut adalah tempat siswa, yang berasal dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi, bertemu dan bergaul dalam lingkungan sekolah dengan tujuan menuntut ilmu.Di luar lingkungan sekolah, ada keluarga dan masyarakat yang semakin lama semakin majemuk dan kompleks.Pusat-pusat kegiatan sehari-hari, seperti jalan raya yang sibuk, pasar, dan pertokoan, seringkali hanya berjarak beberapa meter dari kompleks sekolah.Kantor pemerintahan, rumah sakit, organisasi dan lembaga Konflik sangat erat kaitannya dengan perasaan manusia, termasuk perasaan diabaikan, disepelekan, tidak dihargai, ditinggalkan, dan juga perasaan jengkel karena kelebihan beban kerja.Perasaan-perasaan tersebut sewaktu-waktu dapat memicu timbulnya kemarahan yang berujung pada konflik.Keadaan tersebut akan mempengaruhi seseorang dalam melaksanakan kegiatannya secara langsung, dan dapat menurunkan produktivitas kerja organisasi secara tidak langsung dengan melakukan banyak kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Pemahaman faktor-faktor tersebut akan lebih memudahkan tugasnya dalam hal menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi dan menyalurkannya ke arah perkembangan yang positif.Layaknya suatu organisasi, dunia pendidikan juga tidak lepas dari konflik.Sehingga di perlukan Fungsi manajemen konflik dalam pendidikan sekolah,Kebijakan implementasi manajemen konflik di sekolah, Strategi penyelesaian konflik di sekolah Konflik pendidikan dapat terjadi disebabkan terjadinya pertentangan maupun kesenjangan dari pihak-pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan baik itu guru, kepala sekolah dan lainnya. SMK Negeri 1 Kab.Kupang sebagai sebuah lembaga, tentu tidak mungkin bisa lepas dari adanya konflik, baik konflik yang terjadi pada individu pendidik maupun tenaga kependidikan, konflik antar pendidik maupun tenaga kependidikan, konflik pendidik dengan peserta didik, konflik sekolah dengan lingkungan dan lain sebagainya. Sepanjang tahun 2009 – 2014 selalu saja ditemukan adanya konflik antara beberapa guru dengan Kepala Sekolah, Kepala sekolah dengan pejabat Dinas PPO kabupaten, Siswa di sekolah dengan Siswa dari Sekolah lain, maupun antara guru dengan guru atau dengan siswa di sekolah.. Oleh karena itu diperlukan manajemen yang tepat agar konflik dapat ditanggulangi. Dalam tulisan ini penulis ingin menulis makalah dengan judul” Manajemen Konflik Pendidikan di SMK Negeri 1 Kabupaten Kupang” 1.2. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah dan identifkasi masalah di atas maka penulis merumuskan permasalahan dengan rumusan permasalahan sebagai berikut “Bagaimanakah Penerapan Manajemen Konflik Dalam Menyelesaikan Konflik Yang Terjadi pada SMK Negeri 1 Kab.Kupang?” 1.3. BATASAN MASALAH Batasan masalah dalam penulisan ini, dibatasi pada Fungsi Manajemen Konflik Pendidikan di Sekolah, Kebijakan Implementasi Manajemen Konflik di Sekolah, Strategi Penyelesaian Konflik di Sekolah. 1.4. TUJUAN PENULISAN Berdasarkan rumusan masalah maka penulis melakukan penulisan makalah ini dengan tujuan penulisan sebagai berikut: 1.4.1 Untuk mendeskripsikan Fungsi Manajemen Konflik Pendidikan di Sekolah 1.4.2 Untuk mendeskripsikan Kebijakan Implementasi Manajemen Konflik di Sekolah 1.4.3 Untuk mendeskripsikan Strategi Penyelesaian Konflik di Sekolah 1.5. MAFAAT PENULISAN Berdasarkan perumusan dan tujuan penulisan maka manfaat penulisan sebagai berikut: 1.5.1 Sebagai bahan referensi bagi SMK yang belum menjalankan manajemen konflik 1.5.2 Sebagai referensi bagi Pembaca/Lembaga/Guru BK/Kepala sekolah agar dalam penanganan konflik di interenal/external sekolah dapat dilakukan dengan manajemen konflik yang terukur BAB II PEMBAHASAN 2.1. TEORI MANAJEMEN KONFLIK PENDIDIKAN 2.1.1 Pengertian Manajemen Konflik Pendidikan Menurut Terry dalam artikel Jennifer Batton manajemen ialah proses memperoleh tindakan melalui usaha orang lain. Ia merupakan kekuatan utama dalam organisasi yang mengkoordinir berbagai kegiatan bagian-bagian (sub sistem) serta berhubungan dengan lingkungan.Manajemen memiliki unsur-unsur yang meliputi unsur manusia (manajer dan anggotanya), material, uang, waktu, prosedur serta pasar sehingga manajemen merupakan proses yang dilaksanakan oleh manajer agar organisasi berjalan menuju pencapaian tujuan secara efektif dan efesien. Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya Sedangkan konflik menurut pengertian Robbins (1996) dalam artikel Jennifer Batton “Organization Behavior” adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif.Sedang menurut Luthans yang dikutip oleh Eko Putro Widoyoko konflik adalah kondisi yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentengan. Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada keinginan manusia.. Istilah konflik sendiri diterjemahkan dalam beberapa istilah yaitu perbedaan pendapat, persaingan dan permusuhan.Perbedaan pendapat tidak selalu berarti perbedaan keinginan.Oleh karena konflik bersumber pada keinginan, maka perbedaan pendapat tidak selalu berarti konflik.Persaingan sangat erat hubungannya dengan konflik karena dalam persaingan beberapa pihak menginginkan hal yang sama tetapi hanya satu yang mungkin mendapatkannya. Para pakar ilmu perilaku organisasi, memang banyak yang memberikan definisi tentang konflik. Robbins, salah seorang dari mereka merumuskan Konflik sebagai :"sebuah proses dimana sebuah upaya sengaja dilakukan oleh seseorang untuk menghalangi usaha yang dilakukan oleh orang lain dalam berbagai bentuk hambatan(blocking) yang menjadikan orang lain tersebut merasa frustasi dalam usahanya mancapaitujuan yang diinginkan atau merealisasi minatnya".Dengan demikian yang dimaksud dengan Konflik adalah proses pertikaian yang terjadi sedangkan peristiwa yang berupa gejolak dan sejenisnya adalah salah satu manifestasinya. Usman dalam artikelnya, bahwa manajemen konflik merupakan langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif, bermufakat, atau agresif. Dengan demikian manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik.Manajemen konflik termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku maupun pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi.Bagi pihak di luar yang berkonflik sebagai pihak ketiga, yang diperlukannya adalah informasi yang akurat tentang situasi konflik.Hal ini karena komunikasi efektif di antara pelaku dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga. Dalam dunia pendidikan, dibutuhkan seorang manajer yang mampu menyelesaikan konflik yang terjadi di lembaganya.Manajemen konflik pendidikan dapat diartikan sebagai suatu langkah yang diambil oleh manajer untuk menghindari konflik yang terjadi sehingga tujuan pendidikan dapat terwujud secara optimal. Navastara dalam artikelnya mengemukakan bahwa ada lima jenis konflik yaitu konflik intrapersonal, konflik interpersonal, konflik antar individu dan kelompok, konflik antar kelompok dan konflik antar organisasi.Jenis-jenis konflik ini juga terjadi dalam dunia pendidikan.Secara detailnya dapat diuraikan seperti di bawah ini : a). Intrapersonal Conflict Konflik intrapersonal adalah konflik seseorang dengan dirinya sendiri.Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.Ada tiga macam bentuk konflik intrapersonal yaitu:Konflik pendekatan-pendekatan, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama menarik.Konflik pendekatan–penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada dua pilihan yang sama menyulitkan. Konflik penghindaran-penghindaran, contohnya orang yang dihadapkan pada satu hal yang mempunyai nilai positif dan negatif sekaligus. b). Interpersonal Conflict Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan.Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. c). Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok Hal ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan oleh kelompok kerja mereka. d). Konflik antara kelompok dalam organisasi yang sama Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam organisasi-organisasi.Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja – manajemen merupakandua macam bidang konflik antar kelompok. e). Konflik antara organisasi Dalam pendidikan konflik semacam ini dapat terjadi seperti konflik antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Selain jenis konflik di atas juga dikenal macam-macam konflik lainnya, yaitu : 1. Dari segi pihak yang terlibat dalam konflik.Dari segi ini konflik dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: Konflik individu dengan individu, Konflik individu dengan kelompok, Konflik kelompok dengan kelompok 2. Dari segi dampak yang ditimbulkan dari segi ini konflik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konflik fungsional dan konflik infungsional. Konflik fungsional apabila dampaknya dapat memberi manfaat atau keuntungan bagi organisasi, sebaliknya disebut infungsional apabila dampaknya justru merugikan organisasi. Menurut Heidjrachman dari berbagai penelitian dan percobaan ternyata ditemukan hasil-hasil yang mirip antara yang satu dengan yang lain situasi, yang timbul akibat adanya konflik, baik konflik yang fungsional maupun konflik yang infungsional.Di antaranya yang penting adalah : timbulnya kekompakan di antara anggota-anggota kelompok yang mempunyai konflik dengan kelompok yang lain. 2.1.2 Manifestasi Konflik di Sekolah Konflik yang terjadi dalam sebuah sekolah atau dalam sebuah organisasi dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk atau cara : Perselisihan (Dispute): bagi kebanyakan orang awam, kata konflik biasanyadiasosiasikan dengan "dispute" yaitu "perselisihan" tetapi, dalam konteks ilmuperilakuorganisasi, "perselisihan" sebenarnya sudah merupakan salah satu dari banyak bentuk produk dari konflik. Dispute atau perselisihan adalah salah satu produk konflik yang paling mudah terlihat dan dapat berbentuk protes (grievances), tindakan indispliner, keluhan (complaints), unjuk rasa ramai-ramai , tindakan pemaksaan (pemblokiran, penyanderaan, dsb.), tuntutan ataupun masih bersifat ancaman atau pemogokan baik antara fihak internal organisasi ataupun dengan pihak luar adalah tanda-tanda konflik yang tidak terselesaikan. Competition (persaingan) yang tidak sehat.Persaingan sebenarnya tidak sama dengan konflik.,Persaingan seperti misalnya dalam pertandingan atletik mengikuti aturan main yang jelas dan ketat.Semua pihak yang bersaing berusaha memperoleh apa yang diinginkan tanpa di jegal oleh pihak lain.Adanya persaingan yang sangat keras dengan wasit yang tegas dan adil, yang dapat menjurus kepada perilaku dan tindakan yang bersifat menjegal yang lain. Sabotase adalah salah satu bentuk produk konflik yang tidak dapat diduga sebelumnya. Sabotase seringkali digunakan dalam permainan politik dalam internal organisasi atau dengan pihak eksternal yang dapat menjebak pihak lain. Misalnya saja satu pihak mengatakan tidak apa-apa, tidak mengeluh, tetapi tiba-tiba mengajukan tuntutan ganti rugi miliaran rupiah melalui pengadilan.Hal tersebu akan menimbulkan Inefisiensi/produktivitas yang rendah.Apa yang terjadi adalah salah satu fihak (biasanya fihak pekerja) dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang berakibat menurunkan produktivitas dengan cara memperlambat kerja (slowdown), mengurangi output, melambatkan pengiriman, (hidden conflict) dimana salah satu pihak menunjukan sikapnya secara tidak terbuka. Bentuk-bentuk konflik yang terjadi di sekolah , antara lain: Konflik tugas (task conflict), karena ketidaksesuaian tugas yang dijalankan tiap individu dalam sekolah dengan kemampuan, pengetahuan, pendidikan, keterampilan. Konflik Antar personal (interpersonal conflict), terjadi manakala hubungan antar individu terganggu dalam sekolah karena terdapat ketidaksepakatan personal terhadap kebutuhan dan kepentingan individu di sekolah, cara menyelesaikannya dengan membuat saling pengertian dan pemahaman antar individu, dapat pula dengan distribusi kepentingan yang adil sesuai dengan tanggung jawab masing-masing.Konflik prosedural (procedural conflict) terjadi ketika anggota kelompok dalam organisasi tidak sepakat tentang prosedur dalam mengatur bagaimana cara atau strategi organisasi dalam mencapai tujuan 2.2 FUNGSI MANAJEMEN KONFLIK DALAM PENDIDIKAN SEKOLAH Dilihat dari fungsi implimentasi kebijakan untuk menerapkan manajemen konflik, maka pada dasarnya hampir sama dengan fungsi dalam manajemen umum. Sebagaimana diketahui bahwa dalam dunia manajmeen diketahui secara umum beberapa fungsi manajemen (Fernandez Cosmas, 2014), antara lain adalah: a).Perencanaan (Planning) Perencanaan merupakan tindakan awal dalam proses manajemen. cara terbaik untuk mencapai tujuan.Dengan adanya perencanaan akan dapat mengarahkan, mengurangi pengaruh lingkungan, mengurangi tumpang tindih serta merancang standar untuk memudahkan pengawasan.Dengan perencanaan akan dapat mengkoordinir berbagai kegiatan, mengarahkan manajer kepada tujuan yang akan dicapai. b. Pengorganisasian (Organizing) pengorganisasian adalah proses dimana pekerjaan yang ada dibagi dalam komponen-komponen yang dapat ditaangani dan aktivitas mengkoordinasi hasil-hasil yang akan dicapai sehingga tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.Jadi proses pengorganisasian adalah kegiatan menempatkan seseorang dalam struktur organisasi sehingga memiliki tanggung jawab, tugas dan kegiatan yang berkaiatan dengan fungsi organisasi dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama melalui perencanaan. Pengorganisasian dalam aktivitasnya mencakup:Siapa melakukan apa, siapa memimpin siapa, menetapkan saluran komunikasi serta memusatkan sumber-sumber daya terhadap sasaran c. Kepemimpinan (Leadership) dan controling Kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang diinginkan pimpinan untuk mereka lakukan. Jadi kepemimpinan berkaiatan dengan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mempengaruhi orang lain. Intinya adalah hubungan antar manusia.Ketrampilan memimpin mencakup ketrampilan konseptual (pengetahuan), ketrampilan teknikal dan ketrampilan interpersonal (komunikasi). Ada empat gaya kepemimpinan yaitu: 1) Pemimpin otokratik, yaitu menyuruh bawahannya melakukan sesuatu tanpa ada pertanyaan 2) Pemimpin partisipatif, yaitu selalu melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan tetapi otoritas akhir sering berada di tangan pemimpin 3) Pemimpim demokratis, yaitu selalu mencoba memperhatikan dan melakukan apa yang dinginkan kebanyakan bawahannya 4) Pemimpin yang membebaskan bawahan (laissez faire), yaitu cenderung tidak melibatkan diri kepada pekerjaan bawahan. (P Cosmas Fernandes) d. Pengawasan (Controlling) Fungsi pengawasan mencakup semua akktivitas yang dilaksanakan oleh manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yag direncanakan.Konflik bisa jadi merupakan sumber energi dan kreativitas yang positif apabila dikelola dengan baik.Misalnya, konflik dapat menggerakan suatu perubahan : Membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.  Memberikan saluran baru untuk komunikasi.  Menumbuhkan semangat baru pada staf.  Memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi.  Menghasilkan distribusi sumber tenaga yang lebih merata dalam organisasi. Apabila konflik mengarah pada kondisi destruktif, maka hal ini dapat berdampak pada penurunan efektivitas kerja dalam organisasi baik secara perorangan maupun kelompok.Biasanya tiap kelompok berupaya melakukan berupa penolakan, resistensi terhadap perubahan, apatis, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif, berupa demonstrasi. 2.3 PRINSIP KEBIJAKAN IMPLIMENTASI MANAJEMEN KONFLIK DI SEKOLAH 2.3.1 Prinsip manajemen berdasarkan sasaran (MBS) Istilah MBS pertama kali dipopulerkan sebagai suatu pendekatan terhadap perencanaan oleh Peter drucker (1954) yang dikenal dengan MBO (Management By Objektivitas). MBO merupakan teknik manajemen yang membantu memperjelas dan menjabarkan tujuan organisasi. Sistem MBO dapat efektif jika mengandung unsur-unsur: a) Komitmen pada program b) Penentuan sasaran pada tingkat puncak c) Sasaran individu d) Peran serta aktif semua tingkatan manajer e) Otonomi dalam pelaksanaan rencana f) Penilai prestasi 2.3.3 Prinsip manajemen berdasarkan orang Manajemen berdasarkan orang merupakan suatu konsep manajemen modern yang mengkaji keterkaitan dimensi perilaku, komponen sistem dalam kaitannya dengan perubahan dan dan pengembangan organisasi. 2.3.4 Prinsip manajemen berdasarkan informasi Perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengawasan membutuhkan informasi.Informasi yang dibutuhkan manajer disediakan oleh suatu sistem informasi manjemen (MIS).Informasi dimanfaatkan sebagai dasar untuk melakukan pemantauan dan penilaian kegiatan serta hasil-hasil yang dicapai. Kemudian konflik dapat berkembang karena berbagai sebab, sebagiannya sebagai berikut: 1. Batasan pekerjaan yang tidak jelas 2. Hambatan komunikasi 3. Tekanan waktu 4. Standar, peraturan dan kebijakan yang tidak masuk akal 5. Pertikaian antar pribadi 6. Perbedaan status 7. Harapan yang tidak terwujud Jennifer Batton, menyebutkan beberapa prinsip dasar implimentasi dalam manajemen konflik pendidikan, yaitu : a) Needs Assessment (Asessmen kebutuhan) b) Secure Administrative Support (Administrasi yang terjamin) c) Select Site Leadership Team (Menyeleksi orang-orang yang terlibat dalam kepemimpinan) d) Orient Students (Oreantasi siswa) e) Select Students and/or Staff to be Involved (menyeleksi para peserta didik dan staff untuk lebih terlibat dalam pendidikan) f) Provide Training (Mengadakan pelatihan) g) Publicize Programming (melakukan publikasi program) h) Utilize the Program i) Evaluate the Program (dan evaluasi program), (Jennifer Batton, 2007). 2.3.5 Manajemen Konflik yang Efektif Manajemen konflik dimaksudkan sebagai sebuah proses terpadu (intergrated) menyeluruh untuk menetapkan tujuan organisasi dalam penanganan konflik, menetapkan cara-cara mencegahnya program-program dan tindakan sebagai tersebut maka dapat ditekankan empat hal : 1) Manajemen konflik sangat terkait dengan visi, strategi dan sistem nilai/kultur organisasi manajemen konflik yang diterapkan akan terkait erat dengan ketiga haltersebut 2) Menajemen konflik bersifat proaktif dan menekankan pada usahapencegahan. Bilafokus perhatian hanya ditujukan pada pencarian solusisolusi untuk setiap konflik yangmuncul, maka usaha itu adalah usaha penanganan konflik, bukan manajemen konflik. 3) Sistem manajemen konflik harus bersifat menyeluruh (orporate wide) dan mengingatsemua jajaran dalam organisasi.Adalah sia-sia bila system manajemen konflik yangditerapkan hanya untuk bidang Sumberdaya Manusia saja misalnya 4) Semua rencana tindakan dan program-program dalam sistem manajemen konflik jugaakan bersifat pencegahan dan bila perlu penanganan. Dengan demikian maka semua program akan mencakup edukasi, pelatihan dan program sosialisasi lainnya. 2.4 IMPLEMENTASI MANAJEMEN KONFLIK DI SEKOLAH Metode pengurangan konflik. Salah satu cara yang sering efektif adalah dengan mendinginkan persoalan terlebih dahulu (cooling thing down). Meskipun demikiancara semacam ini sebenarnya belum menyentuh persoalan yang sebenarnya. Cara lain adalah dengan membuat musuh bersama, sehingga para anggota di dalam kelompok tersebut bersatu untuk menghadapi musuh´ tersebut.Cara semacam ini sebenarnya juga hanya mengalihkan perhatian para anggota kelompok yang sedang mengalami konflik Metode penyelesaian konflik dapat dilakukan dengan mendominasi atau menekan, berkompromi dan penyelesaian masalah secara integrative meliputi: a) Dominasi (Penekanan) Dominasi dan penekanan mempunyai persamaan makna, yaitu keduanya menekankonflik, dan bukan memecahkannya, dengan memaksanya tenggelam´ ke bawah permukaan dan mereka menciptakan situasi yang menang dan yang kalah.Pihak yang kalah biasanya terpaksa memberikan jalan kepada yang lebih tinggikekuasaannya, menjadi kecewa dan dendam.Penekanan dan dominasi bisa dinyatakan dalam bentuk pemaksaan sampai dengan pengambilan keputusan dengan suara terbanyak (voting). b) Kompromi Melalui kompromi mencoba menyelesaikan konflik dengan menemukan dasar yang di tengah dari dua pihak yang berkonflik ( win-win solution ).Cara ini lebih memperkecil kemungkinan untuk munculnya permusuhan yang terpendam dari dua belah pihak yang berkonflik, karena tidak ada yang merasa menang maupun kalah.Meskipun demikian, dipandang dari pertimbangan organisasi pemecahan ini bukanlah cara yang terbaik, karena tidak membuat penyelesaian yang terbaik pula bagi organisasi, hanya untuk menyenangkan kedua belah pihak yang saling bertentangan atau berkonflik c) Penyelesaian secara integrative Dengan menyelesaikan konflik secara integratif, konflik antar kelompok diubahmenjadi situasi pemecahan persoalan bersama yang bias dipecahkan dengan bantuan tehnik-tehnik pemecahan masalah (problem solving).Pihak-pihak yang bertentangan bersama-sama mencoba memecahkan masalahnya,dan bukan hanyamencoba menekan konflik atau berkompromi.Meskipun hal ini merupakan carayang terbaik bagi organisasi, dalam prakteknya sering sulit tercapai secaramemuaskan karena kurang adanya kemauan yang sunguh-sungguh dan jujur untuk memecahkan persoalan yang menimbulkan persoalan Jennifer Batton, dari Cuyahoga Community College dalam laporan global issue resource center memberikan gambaran tentang implimentasi manajemen konflik dalam pendidikan.Berikut dibawah ini adalah gambaran manajemen konflik di sekolah :Konflik dapat dicegah atau dikelola dengan: a) Disiplin:Mempertahankan disiplin dapat digunakan untuk mengelola dan mencegah konflik.Manajer guru harus mengetahui dan memahami peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi. Jika belum jelas, mereka harus mencari bantuan untuk memahaminya. b) Pertimbangan Pengalaman dalam Tahapan Kehidupan: Konflik dapat dikelola dengan mendukung guru untuk mencapai tujuan sesuai dengan pengalaman dan tahapan hidupnya.Misalnya;Guru yang berprestasi dapat dipromosikan untuk mengikuti pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, sedangkan bagi guru senior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi. c) Komunikasi:Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif.Suatu upaya yang dapat dilakukan manajer untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam kegitan sehari-hari yang akhirnya dapat dijadikan sebagai satu cara hidup. d) Mendengarkan secara aktif:Mendengarkan secara aktif merupakan hal penting untuk mengelola konflik.Pendekatan dalam resolusi konflik tergantung pada : Konflik itu sendiri Karakteristik orang-orang yang terlibat di dalamnya Keahlian individu yang terlibat dalam penyelesaian konflik Pentingnya isu yang menimbulkan konflik Ketersediaan waktu dan tenaga Petunjuk Pendekatan Situasi Konflik : Diawali melalui penilaian diri sendiri Analisa isu-isu seputar konflik Tinjau kembali dan sesuaikan dengan hasil eksplorasi diri sendiri. Rencanakan pertemuan antara individu-individu yang terlibat konflik Memantau sudut pandang dari semua individu yang terlibat Mengembangkan dan menguraikan solusi Memilih solusi dan melakukan tindakan Merencanakan pelaksanaannya Untuk menangani konflik dengan efektif, kita harus mengetahui kemampuan diri sendiri dan juga pihak-pihak yang mempunyai konflik.Ada beberapa cara untuk menangani konflik antara lain Introspeksi diri, mengevaluasi pihak-pihak yang terlibat identifikasi sumber konflik, mengetahui pilihan penyelesaian atau penanganan konflik yang ada dan memilih yang tepat. 2.5 STRATEGI PENYELESAIAN KONFLIK Dalam dunia pendidikan, dibutuhkan seorang manajer yang mampu menyelesaikan konflik yang terjadi di lembaganya.Manajemen konflik pendidikan dapat diartikan sebagai suatu langkah yang diambil oleh manajer untuk menghindari konflik yang terjadi sehingga tujuan pendidikan dapat terwujud secara optimal. Fungsi manajemen konflik pendidikan adalah untuk menghindari konflik, mengakomodasi (memberi kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi pemecahan masalah, khususnya apabila isu tersebut penting bagi orang lain), kompetisi, kompromi atau negosiasi, memecahkan masalah atau kolaborasi Sebagaimana dijelaskan di atas, maka harus ada manajer yang mengatur penyelesaian konflik tidak lain adalah kepala sekolah. Di jelaskan oleh Mulyasa, kepala sekolah dapat menjadi pihak utama dalam konflik-konflik yang terjadi di sekolah, yakni melibatkan diri secara aktif dalam situasi konflik yang berkembang, pada kasus apapun kepala sekolah harus menjadi seorang partisan yang terampil dalam dinamika konflik, sehingga dapat meningkatkan prestasi seluruh tenaga kependidikan di sekolah. Menurut Syaiful Sagala, kepala sekolah haruslah tangguh.Ketangguhan kepala sekolah akan menciptakan sekolah yang bermutu dan kompetitif.Katangguhan ini menggambarkan bahwa kepala sekolah itu memiliki (1) Kekuatan teknikal penerapan fungsi-fungsi manajemen; (2) Kekuatan manusia pemanfaatan potensi sosial sekolah; (3) Kekuatan pendidikan dan kepemimpinan; (4) Kekuatan simbolik atas kedudukan profesional; dan (5) Kuatan budaya sebagai sistem nilai yang berorientasi pada budaya mutu dan etos kerja yang tinggi. Husaini Usman, memberikan lima strategi untuk mengatasi konflik dalam lima kemungkinan, yaitu a. Jika kerjasama sama rendah dan kepuasan diri sendiri tinggi maka gunakan pemaksaan (forcing) b. Jika kerjasama rendah dan kepuasan diri sendiri rendah maka gunakan penghindaran (avoiding), c. Jika kerjasama dan kepuasan diri seimbang (cukup) maka gunakan kompromi (compromising), d. Jika kerjasama tinggi dan kepuasan diri sendiri tinggi maka gunakan kolaboratif (collaborating), dan e. Jika kerjasama tinggi dan kepuasan diri sendiri rendah maka gunakan penghalusan (smoothing) atau Forcing (pemaksaan) menyangkut penggunaan kekerasan, ancaman, dan taktik-taktik penekanan yang membuat lawan melakukan seperti yang dikehendaki.Pemaksaan hanya cocok dalam situasi tertentu untuk melaksanakan perubahan penting dan mendesak.Pemaksaan dapat mengakibatkan bentuk perlawanan terbuka dan tersembunyi (sabotase). Avoding (penghindaran) berarti menjauh dari lawan konflik.Penghindaran hanya cocok bagi individu atau kelompok yang tidak tergantung pada lawan individu atau kelompok konflik dan tidak mempunyai kebutuhan lanjut untuk berhubungan dengan lawan konflik. Compromising (pengkompromian) berarti tawar-menawar untuk melakukan kompromi sehingga mendapatkan kesepakatan.Tujuan masing-masing pihak adalah untuk mendapatkan kesepakatan terbaik yang saling menguntungkan. Pengompromian akan berhasil apabila kedua belah pihak saling menghargai dan saling percaya. Collaborating berarti kedua belah pihak yang konflik masih saling mempertahankan keuntungan terbesar bagi dirinya atau kelompoknya saja. Smoothing (penghalusan) atau conciliation berarti tindakan mendamaikan yang berusaha untuk memperbaiki hubungan dan menghindarkan rasa permusuhan terbuka tanpa memecahkan dasar ketidaksepakatan itu. Conciliation berbentuk mengambil muka (menjilat) dan pengakuan. Conciliation cocok digunakan apabila kesepakatan itu sudah tidak relevan lagi dalam hubungan kerja sama. Sedangkan menurut Mulyasa, mengutip pendapat Thomas, menyebutkan bahwa pendekatan penyelesaian konflik adalah sebagai berikut.Mempersatukan (integrating). Merupakan salah satu pendekatan penyelesaian konflik melalui tukar menukar informasi dan ada keinginan untuk mengamati perbedaan serta mencari solusi yang dapat diterima oleh semua pihak. Membantu (obliging), menetapkan nilai yang tinggi untuk orang lain sementara dirinya sendiri dinilai rendah.Pendekatan ini untuk mengangkat dan menghargai orang lain, membuat mereka merasa lebih baik dan senang terhadap sesuatu. Pendekatan ini berperan dalam menyempitkan perbedaan antar kedua pihak dan mendorong mereka untuk mencari persamaan. Mendominasi (dominating). Pendekatan ini menekankan pada diri sendiri dan meremehkan kepentingan orang lain, sehingga kewajiban bisa dikalahkan oleh keinginan pribadi.Pendekatan ini efektif untuk menentukan keputusan secara cepat, dan jika permasalahan tersebut kurang penting. Menghindar (avoiding) dan mengadakan kompromi (compromising). Pendekatan ini merupakan penyelesaian jalan tengah.Pendekatan ini bisa menjadi pemecah perbedaan, sehingga kompromi hampir selalu dijadikan sarana oleh semua pihak yang berselisih untuk memberikan jalan keluar atau pemecahan masalah. BAB III PENUTUP 3.1. KESIMPULAN Manajemen konflik merupakan seni untuk mengelola dan menyelesaikan konflik yang terjadi dalam sebuah kelompok atau organisasi, tak terkecuali lembaga pendidikan.Mengingat konflik merupakan sebuah keniscayaan dalam setiap komunitas yang terdiri dari bermacam-macam individu dengan karakter masing-masing, maka pemimpin atau dalam hal ini adalah kepala sekolah harus memiliki bekal/ilmu dalam mengatasi konflik. Dari pembahasan dan konsep teori pada bab pembahasan dapat disimpulkan bahwa di SMK Negeri 1 Kab.Kupang belum menerapkan pola manajemen konflik secara baik oleh karena pengetahuan strategi pemimpin, guru, maupun stekholder dalam menjalankan Fungsi Manajemen Konflik Dalam Pendidikan Sekolah, Kebijakan Implementasi Manajemen Konflik di Sekolah, serta Strategi Penyelesaian Konflik di Sekolah masih kurang dan belum dijalankan sebagaimana diharapkan. 3.2 SARAN Oleh karena konflik selalu saja terjadi di sekolah dan selalu muncul, maka kepala sekolah semestinya menyaipakan tips atau trik dalam manajemen konflik, diantaranya adalah mengelola waktu dengan baik, mengembangkan energi dan memecahkan masalah dengan mempelajari beberapa referensi teori para ahli dan pengalaman yang dilakukan pemimpin-pemimpin lain yang sukses menangani konflik di institusi mereka DAFTAR PUSTAKA Ardy Maulidy Navastara, Manajemen Konflik: Definisi dan Teori Konflik, jepits.wordpress.com 2007 E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2006. Blog Infopedia.net Eko Putro Widoyoko, Manajemen Konflik Dalam Organisasi, www.um-pwr.ac.id Heidjrachman R & Suad Husnan. 2002. Manajamen Personalia,Yogyakarta Blog Infopedia.net Jennifer Batton, A World of Possibilities: Conflict Resolution Education Around the Globe Educators as Change Agents, Global Issues Resource Center, www.tri-c.edu/community/girc.htm P Cosmas Fernandez, 2014.Materi perkuliahan Management of School Systems, Unwira kupang Rouf-artikel.blogspot.com › Pendidikan/ /cgazmi.blogspot.com/2011/01/konflik-ibu-bapa-guru.html Sagala, Syaiful, Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, Bandung, Alfabeta, 2010. Blog Infopedia.net Usman, Husaini, Manajemen, Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara, 2006.Blog Infopedia.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar